Kelalaian dan Kesibukan hati Penyebab doa tidak Diijabah

Imam Ali bin Abi Thalib pernah mendengar seseorang berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah.” Beliau berkata:

أراك تتعوذ من مالك وولدك، يقول الله تعالى: (إنما أموالكم وأولادكم فتنة) ولكن قل: اللهم إني أعوذ بك من مضلات الفتن

“Aku melihatmu berlindung kepada Allah dari harta dan anakmu, padahal Allah swt berfirman: ‘Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah fitnah’. Semestinya kamu berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan fitnah.” (Biharul Anwar)

Allamah Thabathaba’i mengatakan: Makna hadis tersebut memiliki makna khusus dan tentangnya para ulama memiliki banyak pandangan. Makna hadis tersebut seperti hadis-hadis yang menjelaskan tentang makna juz’i dan kulli.

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:

إن الله لا يستجيب دعاء بظهر قلب ساه

“Sesungguhnya Allah tidak mengijabah doa hati yang lalai.” (Uddatud da’i)

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:

لا يقبل الله دعاء قلب لاه

“Allah tidak mengijabah doa hati yang main-main.” (Uddatud da’i)

Allamah Thabathaba’i mengatakan: Makna hadis ini dikuatkan oleh riwayat-riwayat yang lain. Yaitu menunjukkan pada tidak terwujudnya hakikat doa, dan permohonan orang yang hatinya lalai dan main-main.

Dalam kitab Da’awat Ar-Rawandi menyebutkan bahwa Allah azza wa jalla berfirman kepada seorang hamba dalam kitab Taurat:

إنك متى ظللت تدعوني على عبد من عبيدي من اجل أنه ظلمك فلك من عبيدي من يدعو عليك من أجل أنك ظلمته فإن شئت أجبتك وأجبته فيك، وإن شئت أخرتكما إلى يوم القيامة

“Sesungguhnya ketika kamu melakukan kesesatan, kamu berdoa kepada-Ku untuk keburukan hamba-Ku karena ia berbuat zalim padamu, padahal kamu bagian dari hamba-hamba-Ku yang juga mendoakan keburukan untuk kamu karena kezalimanmu padanya. Maka, jika Aku menghendaki, Aku mengijabah doamu dan mengijabah doanya; dan jika Aku menghendaki, Aku menunda ijabah-Ku terhadap doa kalian berdua sampai hari kiamat.”

Allamah Thabathaba’i mengatakan: Orang yang memohon sesuatu untuk dirinya, ia telah menyukai hal itu untuk dirinya. Jika ia mendoakan orang lain karena kezalimannya agar ia tertimpa keburukan, maka pada hakikatnya doa itu juga ditujukan pada dirinya jika ia juga melakukan kezaliman. Sementara ia tidak menyukai dirinya tertimpa keburukan. Jika demikian, maka pada hakikatnya doa itu tidak keluar dari hatinya dan tidak terwujud dari nuraninya. Allah swt berfirman:

ويدع الانسان بالشر دعائه بالخير وكان الانسان عجولا

“Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (Al-Isra’: 11)

Disarikan dari Tafsir Al-Mizan, Allamah Thabathaba’i, jilid 2: 39-40.

Wassalam
Syamsuri Rifai
http://syamsuri149.wordpress.com
http://shalatdoa.blogspot.com
http://syamsuri149.multiply.com

3 Responses

  1. Maaf, koreksi sedikit: Terjemahan sabda Imam Ja’far Al-Shadiq di atas kurang kata “tidak”.

  2. Trm kasih koreksinya. Sdh sy perbaiki.

  3. subhanallah….
    mudah-mudahan do’aku di ijabah oleh Allah Swt
    yang sangat ingin mempunyai keturunan yang sholeh maupun sholehah…amiiin…

    Doain ya mas……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: