Metode Penafsiran Al-Qur’an (Bagian1)

Segala puji bagi Allah yang menurunkan Al-Qur’an kepada hamba-Nya agar menjadi pengingat bagi alam semesta. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah saw pembawa berita gembira dan peringatan, pelita yang menerangi, dan kepada Ahlul baitnya yang telah disucikan oleh Allah dengan sesuci-sucinya.

Sebagai mukaddimah tafsir ini (tafsir Al-Mizan), kami akan menguraikan secara ringkas tentang metode memahami dan menafsirkan makna ayat-ayat Al-Qur’an, mengungkakan maksud dan tujuannya. Penafsiran Al-Qur’an merupakan aktivitas ilmiah yang paling diutamakan oleh setiap priode umat Islam. Penafsiran Al-Qur’an telah dimulai sejak zaman turunnya Al-Qur’an sebagaimana yang dijelaskan firman Allah swt:

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Al-Baqarah: 151)

Mufassir priode pertama adalah sekelompok sahabat Nabi saw seperti Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar, Ubay bin Ka’b, dan lainnya. Tidak termasuk Imam Ali bin Abi Thalib (sa), karena beliau tak dapat disejajarkan dengan mereka. Penafsiran di zaman ini tidak lebih dari menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dari sisi sastra dan Asbabun nuzulnya. Sedikit sekali yang menafsirkan ayat dengan ayat, juga menafsirkan ayat dengan hadis Nabi saw, khususnya peristiwa sejarah, realita-realita yang terjadi, kiamat dan lainnya.

Dalam metode yang sama juga digunakan oleh sebagian mufassir dari kalangan tabi’in seperti Mujahid, Qatadah, Abu Layla, Asy-Sya’bi, As-Sudi, dan lainnya yang hidup pada awal abad kedua hijriyah. Penafsiran mereka tidak jauh beda dengan metode yang digunakan oleh sahabat dalam menafsirkan Al-Qur’an. Selain itu, mereka menggunakan riwayat-riwayat hadis, yang antara lain disisipkan oleh orang-orang yahudi. Mereka merujuk pada riwayat-riwayat itu dalam menjelaskan peristiwa sejarah, realita alam seperti kejadian langit, bumi, lautan, peristiwa-peristiwa para nabi yang dianggap salah dan dosa, penyimpangan terhadap kitab-kitab suci, dan hal-hal lain yang sejenisnya.
Sebagian mufassir di kalangan tabi’in diwarisi dan dipengaruhi oleh metode sahabat dalam menafsirkan Al-Qur’an.

(Mukaddimah tafsir Al-Mizan, Allamah Thabathaba’i)

Wassalam
Syamsuri Rifai
http://syamsuri149.wordpress.com
http://shalatdoa.blogspot.com
http://syamsuri149.multiply.com

One Response

  1. Mufassir priode pertama adalah sekelompok sahabat Nabi saw seperti Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar, Ubay bin Ka’b, dan lainnya. Tidak termasuk Imam Ali bin Abi Thalib (sa), karena beliau tak dapat disejajarkan dengan mereka.

    Ustad, mohon dijelaskan apa maksud dari kalimat tersebut ? apakah Ali bukan Sahabat ? atau apakah Ali tidak menafsirkan Al Quran ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: